Perkembangan Awal Protocorm Anggrek Phalaenopsis amabilis secara In Vitro setelah Penambahan Zat Pengatur Tumbuh α-Naphtaleneacetic Acid dan Thidiazuron

Eka Fitriana Candra Ningrum, Ikhsanudin Nur Rosyidi, Rizka Riliant Puspasari, Endang Semiarti


Abstrak


Phalaenopsis amabilis (L.) Blume merupakan salah satu anggrek alam dengan nilai komersial yang tinggi. Keberadaannya di alam semakin sukar dijumpai akibat eksploitasi berlebihan dan kerusakan hutan. Selain itu budidaya anggrek ini cukup sulit dilakukan karena biji bersifat mikroskopis dan tidak memiliki endosperm, sehingga perlu dilakukan kultur  in vitro. Dalam budidaya secara in vitro diperlukan medium pendukung pertumbuhan anggrek secara optimal misalnya dengan penambahan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dari golongan auksin dan sitokinin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ZPT tersebut terhadap perkembangan protokorm (pertumbuhan embrio anggrek) P. amabilis secara in vitro dari aspek morfologi dan anatomi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi dan Laboratorium Struktur Perkembangan Tumbuhan. Digunakan protokorm anggrek P. amabilis berumur 2 bulan. Protokorm disubkultur pada medium NP dengan kombinasi ZPT NAA dan TDZ pada berbagai konsentrasi dan diinkubasi pada ruangan dengan kelembaban tinggi, suhu 250C.  Kemudian diamati protokorm anggrek selama 2 minggu yang mencakup persentase pertumbuhan, persentase protokorm yang membentuk tunas dan absorbing hair. Pembuatan preparat anatomi dilakukan dengan mengambil protokorm setiap minggunya, disimpan dalam larutan alkohol 70% dan dibuat preparat anatomi menggunakan metode Parafin dengan pewarnaan safranin. Hasil penelitian menunjukkan pada penambahan NAA dan TDZ pertumbuhan protokorm mencapai 100%. Persentase protokorm yang membentuk tunas berturut turut (0:0, 0.2:0, 0:0.5, 0.2:0.5, 0:1, dan 0.2:1) ppm adalah 24%, 22%, 32%, 40%, 40% dan 38% sedangkan untuk pengamatan protokorm yang membentuk absorbing hair sebesar 10%, 18%, 14%, 24%, 16%, dan 0%. Untuk diameter sel berukuran 39.2±0.47µm, 44.4±0.97µm, 39.08±0.5µm, 38.83±0.2µm,39.5±0.39µm dan 39.75±0.28µm. Sehingga dapat disimpulkan medium yang paling optimal dalam pertumbuhan anggrek P. amabilis secara in vitro adalah medium NP dengan kombinasi NAA dan TDZ (0.2 : 0.5) ppm.

Kata kunci : Anatomi, Kultur In Vitro, Morfologi, Phalaenopsis amabilis


Kata Kunci


Anatomi, Kultur In Vitro, Morfologi, Phalaenopsis amabilis

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Bey, Y., Syafii, W., dan Sutrisna. 2006. Pengaruh Pemberian Giberilin (GA3) dan Air Kelapa Terhadap Perkecambahan Bahan Biji Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis BL) Secara In vitro. Jurnal Biogenesis. 2(2):41-46.

Chugh. S., Guha, S., and Rao, I.U. 2009. Micropropagation of orchids: a review on the potentialof different explants. Sci Hortic, 122(4): 507-520.

Comber, J.B. 1990.Orchids of Java. Charoen Slip Press. Bangkok. pp. 219.

Dressler, R.L. 1993. Phylogeny and classification of the orchid family.Dioscorides Press, Portland, Oregon, USA.

George, E.F and P.D. Sherrington, 1984. Plant propagation by tissue culture. Exegetics Ltd, England. 709 p

Islam, M.O., Ichihashi. S., and Matsui, S. 1998 Control of growth and development of protokorm like body derived from callus by carbon sources in Phalaenopsis. Plant Biotechnol 15: 183–187.

Iswanto, H. 2002. Petunjuk Perawatan Anggrek. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Lu, C., 1993. The use of thidiazuron in tissue culture. In vitro Cell Dev. Biol. 29 : 92-96.

Puspitaningtyas, D.M. 2010. Phalaenopsis amabilis, Bunga Nasional Indonesia. http://pai.or.id/artikel/6-spesies/6-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasionalindonesia.html. 7 September 2016.

Razdan, M.K. 2003.Introduction to Plant Tissue Culture.2nd ed. Science Publishers, Inc. India. P: 71, 72.

Semiarti, E., A. Indrianto, A. Purwantoro, S. Isminingsih, N. Suseno, T. Ishikawa, Y. Yoshioka, Y. Machida, and C. Machida. 2007. Agrobacteriummediated Transformation of The Wild Orchid Species Phalaenopsisamabilis. Plant Biotechnol24 : 265-272.

Sutater, T. dan D.S. Badriah. 1994. Koleksi dan Karakterisasi Anggrek Phalaenopsis amabilis. Bull. Penel. Tan. Hias. 2(1) : 57-65

Sutrian, Y. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tunbuhan (Tentang Sel dan Jaringan). Rineka Cipta. Jakarta. Hal.22, 32.

Wattimena G.A. 1988. Peranan kultur Jaringan dalam Mempertinggi Produksi Pertanian di Indonesia. Makalah pada Seminar Kultur Jaringan Tanaman FP. Unibraw, Malang, 24 hal.

Wijayani Y, Solichatun, and W. Mudyantini. 2007. The Shoot Growth And Anatomical Structure Of Protokorm Like Body Of Grammatophyllum Scriptum (Lindl.) Bl. After Kinetin And NAA Application.Bioteknology 4 (2): 33-40.

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman; Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya. Bumi Aksara, Jakarta.


Article Reads

Total: 255 Abstrak: 126 PDF: 129

Article Metrics

Metrics Loading ...

Metrics powered by PLOS ALM

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.